Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2019
Destinasi masjid terapung Amahami,kota bima Masjid terapung amahami kota bima Masjid terapung kota bima    Masjid yang beralamat lengkap di Jl. Sultan Muhamad Salahuddin, Belo, Bima, Nusa Tenggara Barat ini diresmikan pada akhir Desember 2017 dan kini telah menjadi salah satu pusat kegiatan umat muslim salah satu dalam melaksanakan sholat berjamaah, Masjid Amahami baru saja rampung dibangun pada akhir 2017 silam dan mulai difungsikan sebagai tempat ibadah pada pertengahan Januari. Bentuk bangunannya yang begitu unik membuat masjid ini begitu menarik perhatian dari kejauhan. Usut punya usut, desainnya ternyata merupakan hasil karya dari tim Universitas Petra Surabaya yang mendapat mandat langsung dari Pemerintah Kota Bima.  Dan masjid selain tempat untuk beribadah dan juga difungsikan sebagai tempat berfoto,tempat nongkoknya para anak mudah.karna keindahanya bukan saya masyarakat kota bima saya yg berfoto di masjid tersebut,bahkan masyarakat kabupaten bima pun...
Destinasi pulau kelapa Bima pulau kepala:bima   pulau kelapa merupakan salah satu pulau kecil yang berada di perairan Sape Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat, tepatnya diperbatasan wilayah NTB sebelah timur. Secara administaratif pulau kelapa termasuk dalam wilayah kecamatan Lambu, kabupaten Bima-NTB.  Untuk mencapai pulau Kelapa Ini, kita bisa saja menyewa atau mencarter motorboat berukuran tanggung atau yang lebih besar Pelabuhan Sape. Kalian juga bisa melalui Pelabuhan Penyeberangan ferry, atau Pelabuhan Niaga Gusung Bugis. Lama tempuhnya sekitar 2 jam atau bila ingin lebih cepat bisa menggunakan boat double engine (bermesin ganda).    Karena keindahan seperti Raja Ampat ada di Bima. Raja Ampatnya NTB itu adalah pulau kelapa. pulau ini dikenal masyarakat dengan sebutan pulau Lampu dan kelapa. Karena di sini ada tower dan lampu yang senantiasa menjadi penanda memasuki perairan Sape Bima. Meskipun tidak ada pohon kelapa, namun rayuannya menggo...
Destinasi pantai lawata Pantai Lawata Bima  merupakan salah satu pantai yang letaknya di kelurahan Sambinae yaitu sekitar 5 km dari kota Bima. Pantai ini menghadap langsung ke Teluk Bima dan dari kejauhan terlihat pegunungan atau dataran tinggi Donggo. Letaknya yang berada di pinggir jalan pintu masuk Kota Bima membuat pantai yang satu ini mudah untuk dikunjungi. Keindahan Pantai Lawata Pantai ini merupakan pantai yang legendaris di daerah Bima karena sudah menjadi tempat wisata sejak tahun 1961 yakni sejak zaman Ncuhi. Asal nama Lawata diambil dari kata “Lawang Ita” yang merupakan percampuran bahasa Jawa dan Bima. Saat itu Sang Bima  yang merupakan musafir dari Jawa kedatangannya disambut oleh masyarakat dan Para Ncuhi di tepi pantai. Pada saat penyambutan, para Ncuhi mempersilahkan sambil berkata “Lawang Ita” yaitu “lawang” berarti pintu dan “Ita” berarti Anda. Kata “lawang ita” ini ejaannya kemudian mulai berubah dalam pelafalannya menjadi Lawata. Nelayan ya...
                                     Destinasi di bima Lariti    Lariti adalah,salah satu destinasi favorit di wilayah bima bagian timur ini,tempatnya di sape kab bima,tempatnya cukup jauh dari pusat kota bima,yaa kira-kira 1 setengah jam perjalanan dari pusat kota bima.yg membuat lariti menjadi Destinasi favorit banyak kalangan baik lokal maupun luar kota ini adalah,air lautnya yg sangat gitu jernih dan bersihnya dan juga,kalau air laut lagi surut ada sebuah jalan ditengah laut dan jalan tersebut menghubungankan pesisir pantai lariti dengan sebuah pulau kecil ditengah laut +- 150 meter.  Dan setiap pengunjung dipantai lariti ini,pihak dari kepolisian maupun tokoh-tokoh masayrakat setempat memeriksa pengungjung yg membawa senja apa,miras,narkoba,maupun barang-barang yang membahaya orang lain.dan Destinasi lariti ini pun pengunjungnya tiap harinya tidak pernah sepi apa...
 Sejarah sulta bima Mesuem kerajaan bima  Mesuem kerjaan bima,adalah bukti bahwa daerah bima adalah daerah yg pertama kali dipimpin oleh sultan "Abdul kahir" sultan pertama di bima dinobatkan pada tahun 1620 M. Sebelumnya Sultan Abdul Kahir bernama asli La Ka’i, namun setelah Putra Mahkota La Ka’i bersama pengikutnya mengucapkan dua kalimat syahadat dihadapan para mubaliq sebagai gurunya di Sape. Sejak saat itu, putra mahkota La Ka’i berganti nama menjadi Abdul Kahir, sementara pengikut La Ka’i yaitu ‘Bumi Jara Mbojo berganti nama menjadi Awaluddin, dan Manuru ‘Bata putra Raja Dompu berganti nama menjadi Sirajuddin. Kehadiran sultan pertama ini memiliki pengaruh yang besar dan luas, sehingga penyebaran agama Islam begitu cepat di seluruh pelosok tanah Bima, kecuali di daerah-daerah tertentu masih bertahan pada kepercayaan nenek moyang. Akan tetapi pada beberapa generasi berikutnya mereka mulai menerima Islam, sehingga di daerah-daerah yang dulu memegang kua...